Friday, February 10, 2017

Hujan Bulan Februari, Seorang Banci Penjambret yang Pingsan di Bawah Terik Matahari, Puisi M Thobroni

Seorang Banci Penjambret yang Pingsan di Bawah Terik Matahari
Puisi M. Thobroni











Seorang lelaki bertubuh kurus kering melaju menerabas gelombang ganas jalanan kota
Rambut kudanya berkibar di antara
Sirine, klakson, dan umpatan tengah siang
Di tangannya yang mungil tergenggam kalung makan siang
Yang direngutnya dari lansia yang sedang menanti ajalnya tiba
Tubuhnya yang gemulai terkapar dihantam dari kiri kanan depan belakang

Ia rebah tepat di bawah telapak kaki Tuhannya
Seorang banci penjambret pingsan di bawah terik siang
Dan langit pun mendung seketika


2017



Hujan Bulan Februari
Hujan Bulan Februari
Selembar daun hijau berparas ungu
Serat-seratnya adalah ketulusan
Dan permukaannya menampung segala duka

Hujan bulan Februari
Merayakan kesunyian di antara dedaunan dan ranting-ranting basah
Hujan bulan Februari
Kupetik selembar daun pisang dan kutangkupkan di atas jiwamu
Agar tidak resah segala gundah


2017

M. Thobroni, adalah penggiat Sastra sekaligus penggerak Jaringan Penulis Kaltara yang berdomisili di Tarakan

Inspirasi Kopi Pagi

“Sudah terlalu banyak kata didunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak merubah apa-apa. Lagipula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain.” 
--Seno Gumira Ajidarma--, 
Sepotong Senja untuk Pacarku

Read More

Wednesday, February 8, 2017

Si Yujang Buayoi Kelayun, Cerpen Siti Soleha

Si Yujang Buayoi Kelayun
Cerpen Siti Soleha
“Wajah senja, hati embun, dingin dan santun. Kau harus kawin”

Siapa yang tak kenal Yujang? Lelaki kepala empat yang diliputi rasa kasmaran, begitu kata anak jaman sekarang, sebatang kara dan banyak harta. Tanah dimana-mana, rumah rupa istana yang terbuat dari kayu ulin, kayu termahal dan melimpah di kalimantan dulunya, simpanan masih bisa dinikmati sampai tujuh turunan pula. Kalau pergi kemana-mana selalu memakai kopiyah kesayangan peninggalan almarhum Ayahnya. Jika tak dibawa, rasa-rasa seperti ada yang kurang di kepala. Sungguh tampilan seperti itu katro, kata orang-orang kampung. Pantas dia tak dapat pendamping, tampilannya tak bisa menarik hati wanita. Letak rumahnya di hilir prsimpangan sungai kayan dan di seberang sungai ada kubil yang di beri nama muara kubil yaitu lumpur yang timbul dipinggir sungai.
                Yujang lelaki sukses dan paling kaya di Kubil Seberang, dia bukan keturunan tidung murni, melainkan campuran arab, cina dan tidung. Tak banyak yang tau tentang keluarganya, karena mereka tinggal berjauhan. Dia hanya ingin menetap di kampung supaya bisa menikmati suasana yang asri begitu katanya. Prilakunya yang baik dan tidak pelit sering membuatnya di juluki “Tulalit” yang artinya si tua tidak pula pelit. Yujang tak mengapa dengan julukan itu, justru itu membuatnya terkenal di kampung.
                Orang kampung biasa memanggil dengan sebutan Yujang, karena dia nyaman dengan sebutan itu, Yujang yang berarti paman dalam bahasa tidung, di banding sebutan Pak, kelihatan tua katanya. Sebenarnya usianya memang sudah tua dan sepantasnya sudah harus punya anak, tapi istri saja belum punya. Kalau saja dia tak menolak menikahi perempuan pilihan keluarganya yang dari malaysia, mungkin saja dia sudah punya anak dua sekarang.
Kekasihnya, Lena, keturunan Dayak-Cina yang dulunya pembantu di rumahnya, setelah jadi kekasih, Lena tak bekerja sebagai pembantu lagi karena Yujang tak ingin status pembantu menempel pada Lena, dan Lena pun gengsi jadi pembantu kekasih sendiri. Saat ini Yujang tak ingin berlama-lama punya hubungan yang hanya sebatas pacaran, dai ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan, mengingat usianya yang tak muda lagi, umurnya pun tak berbeda jauh dengan kekasihnya, ya sekitar empat tahunan. Bukan soal pilih-pilih sampai sekarang belum dapat pendamping, tapi Yujang hanya takut dengan perempuan, mengingat orang tuanya yang pernah bercerai.
“Dek Lena, kita sudah lama pacaran dan orang-orang kampung sudah tau tentang hubungan kita. Aku tak ingin kita hanya sebatas pacaran, karena usia kita sudah tak pantas menjalin hubungan seperti ini”. Yujang hendak mengutarakan keinginannya menikahi Lena.
“Lalu, hubungan apa yang kau mau?”. Jawab Lena yang sengaja memancing Yujang untuk mengatakan apa yang ingin dia dengar. Pertanyaan ini juga yang di tunggu-tunggu Yujang dari kekasihnya, seakan Lena memberi ruang dan kesempatan untuk mengatakan hajatnya. Yujang diam sejenak hendak mengatur nafas, rasanya seperti pertama kali menyatakan cinta, dag dig dug jantungnya,  gemetaran dan keringat dingin seluruh tubuhnya.
“Mau kah kau menikah denganku?”. Sambil di pegangnnya tangan Lena yang tersipu malu, wajahnya memerah dan tak kuasa memandang wajah kekasihnya yang agak tua dan dicintainya itu.
“Jangan senyum-senyum saja dek, apa jawabanmu?”. Tegas Yujang.
“Aku mau menikah denganmu”. Ahirnya Yujang yang tadinya khawatir dengan jawaban Lena, menjadi jadi lega.
Maka setelah hari itu, Yujang mulai sibuk mempersiapkan pertemuan antara keluarganya dan keluarga Lena untuk menentukan tanggal pernikahan mereka. Keluarga yang tinggal berjauhan membuat Yujang kesulitan mengatur pertemuan itu, akhirnya dari pihaknya hanya perwakilan saja, yaitu dari adik Bapaknya yang di sebut Uda’ kemudian istri. Yujang tak jemu-jemu menunggu kabar dari Lena, tentang tanggapan keluarganya akan rencana mereka. Berhari-hari smpai tiga minggu terakhir Yujang belum juga mendapat kabar dari kekasih hatinya itu.
Hingga akhirnya Yujang nekat meski hal itu membuatnya merasa harga dirinya akan turun lantaran belum ada janji yang pasti dengan keluarga wanita, dia mendatangi rumah dimana tempat keluarga Lena tinggal. Betapa kagetnya Yujang melihat rumah itu tak ada siapa-siapa. Rumah itu kosong sepertinya mereka sedang pergi, mungkin masih sibuk mendatangi keluarganya yang lain, untuk memberi tahu bahwa Lena akan menikah pikir Yujang dengan wajah lugu dan layu.
Dengan sabar Yujang menunggu sang kekasih hati yang sebentar lagi akan menjadi istri baginya. Penantiannya yang penuh tanda tanya, istri yang didamba dalam hidup, kini sudah berada di depan mata. Hanya tinggal di pinang walau bayangan masih samar-samar dan berkunang-kunang dikala senja datang. Malam-malam yang berlalu kini mulai berubah menjadi kesedehian sedikit demi sedikit, karena rindu. Dalam tidurnya Yujang sering menyebut-nyebut nama kekasihnya itu.
“Lena, Lena, Lena”. Begitu saja setiap malam.
Hingga pada hari itu Uda’nya yang sudah tidak sabar lagi menunggu di rumah karena ingin menemui keluarga Lena, bertanya kepadanya.
“Betul-betul kah perempuan itu mau kawin sama kamu? Kenapa lama sekali kasih kabar? Kami mau pulang ke seberang, anak kami sendirian dirumah”.
“Betul Uda’ kami sudaah bicara masalah mau menikah. Kan ada proses lamaran dan lain sebagainya. Itu yang harus dia bicarakan sama semua keluarganya, mungkin gara-gara itu dia jadi sibuk, karena keluarganya banyak yang harus di beritahu, makanya lama”. Begitulah pikir si Yujang yang hanya memikirkan hal-hal yang baik-baik tentang Lena. Tapi sesungguhnya ada rahasia besar yang disimpan Lena dari Yujang.
“Kalau begitu besok langsung datang saja kerumahnya, supaya jelas”. Tambah Uda’
“Besok biar kita suruh orang saja memeriksa kesana”. Jawab Yujang singkat. Tampaknya Yujang sudah mau putus asa. Dalam hati Yujang berkata-kata.
“Kalau seandainya besok rumah itu masih kosong, aku harus keluar kampung mencari Lena. Mau bagaimana lagi, dialah harapanku satu-satunya dan aku benar-benar berharap dia yang terakhir dalam hidupku, betapa aku mencintaimu Lena. Dimana kau sekarang, kau seperti menghilang, kau tak menghindariku kan? Aku tak ingin putus asa, keluargaku sudah gembira sekali mendengar kabar tentang pernikahan kita. Jangan kau hapus kegembiraan mereka Lena. Aku pun akan malu kalau kita batal menikah nantinya, dan usiaku ini memang sudah benar-benar senja. Hari-hari kulalui sendiri, aku ingin kau mengisi kekosonganku bersama anak-anak kita nanti. Aku tak ingin orang-orang berkata si Yujang buayoi kelayun alias bujang lapuk”.
Tanpa sadar si Yujang memberi panggilan sendiri pada dirinya, semalaman suntuk  dia tak tidur, malam-malamnya dihabiskan hanya untuk memikirkan kekasih hatinya yang entah dimana berada.
Besoknya Yujang meminta salah satu anak buahnya pergi lagi kerumah Lena untuk memastikan apakah dia sudah pulang bersama keluarganya.
“Acay kau harus pergi ke hulu, ke rumahnya Lena. Pastikan apakah dia sudah ada dirumahnya atau belum. Yaa?”. Gelagat Yujang menyuruhnya.
“Iya Jang”. Jawab Acay.
                Sesampainya di depan rumah Lena Acay langsung mengetuk pintu, namun tak ada orang. Rumah itu masih kosong. Salah satu tetangganya menegur Acay. Berincang-bincanglah dia dengan tetangga Lena tadi, segera Acay pulang dan menceritakan semuanya tentang Lena kepada Yujang.
Lena dan keluarga sudah pindah keluar kampung. Sebelum sempat Lena memberi tahu keluarganya tentang rencana kawin dengan Yujang, rupanya orang tua Lena sudah berencana sendiri untuk menikahkan anaknya pada keponakan mereka sendiri yang sama-sama orang cina. Lena terpaksa harus menuruti kedua orang tuanya, dan bersedia menikah dengan pilihan Ayah dan Ibunya. Yujang pun mrasa terpukul dengan kabar itu lantaran batal kawin dan belum melepas statusnya dari Buayoi Kelayun, dan Lena yang benar-benar mencintai Yujang akan mengubur cintanya dalam-dalam.

Tanjung Selor, Februari 2017

Catatan:
Cerpenis yang tinggal di Ibu Kota Provinsi Kaltara, Tanjung Selor ini cukup produktif. Tulisannya banyak dimuat di media Radar Tarakan, Koran Kaltara. Cerpen Si Yujang Buayoi Kelayun ini telah dipublikasikan di Koran Kaltara pada edisi Sabtu, 04 Februari 2017.




.

"Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji"

-Buya Hamka-
Read More

Tuesday, February 7, 2017

Rasaku, Puisi Wahyu Eko Handayani

Rasaku....
Puisi Wahyu Eko Handayani


Tuhan...
Bolehkah aku bercerita..,
aku mencintai seseorang.
Apakah aku salah, Tuhan...?!

Kurasa tidak....
Karena aku selalu dibuatnya lupa dengan rasa sakit yang pernah kualami...
Aku selalu dibuatnya tersenyum.
Aku selalu dibuatnya lupa dengan ego yang kumiliki..
Aku selalu dibuatnya lupa dengan perih yang selalu menghampiri..
Aku hanya meminta satu doa saja Tuhan...
Apakah Engkau kan mengabulkannya?
Tolong kabulkan Tuhan...
Aku hanya ingin dia selalu menemaniku disaat...
Bahagia
Sedih
Sunyi
Jatuh
Luka
Sepi
Susah

Emosi dan....
Aku ingin dia selalu ada
Aku selalu ingin dia menutup hatinya dari cinta yang lainnya selain aku...
Terima kasih untuk kamu yang telah ada..
Tanpa ingin menjadi tiada....
....
Engkaulah @rjunaku....

                                                                                 Tarakan, Feb 2017


*) Penyair adalah anggota Jaringan Penulis Kaltara yang tinggal di Tarakan
     Secangkir Inspirasi       

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.”  
--Seno Gumira Ajidarma--, 
Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
Read More

Friday, February 3, 2017

Kabar Untuk Ibu dan Nisan Di Atas Bukit - Puisi Alis Muntono

Kabar Untuk Ibu
Puisi Alis Muntono



Ibu, ini kabar terakhirku
sekujur tubuh telah terluka
tapi tak juga aku berhenti
karena tak aku ingin meratapi
kekalahan demi kekalahan pada setiap peperanganku

Ibu, aku tak bosan terasing sendirian
Bertempur tak berkesudahan
Mendengar genderang musuh terus ditabuh
Meski aku tak mampu lagi ayunkan pedang

Ibu, tak lama lagi aku akan pulang
Nyanyi rindu yang selalu kau lantunkan
mengalahkan suara meriam dan desing peluru memburu

Ibu, aku hanya ingin bersimpuh dipangkuanmu
Larut dalam belaian lembut
Lelap dalam dekapanmu

Biarlah perang tetap berjalan
tanpa aku tahu siapa bertahan
satu saja permintaanku
semoga telah engkau siapkan beberapa lembar kain kafan

Tarakan Akhir April 2009


NISAN DI ATAS BUKIT
 Puisi Alis Muntono


Kau yang membatu di puncak sebuah bukit
Membisu dalam keheningan sepoi angin
Satu demi satu terbuka kembali
Lembaran kusam kisah – kisah masa silam

Aku tahu kehadiranku terlalu menyakitkan
Sebuah janji begitu saja terucapkan
bahkan ketika kau memakiku
saat berkata bahwa batang - batang ilalang di padang gersang itu
telah melecehkan
mempertanyakan kesetian kita pada bumi

Ah...sayang,
waktu tak sempat lagi memberitahu
bahwa kita adalah orang – orang tua
yang tak pernah menjadi dewasa

kau telah pergi tanpa sepucuk pesan

Borneo 13 Mei ’09


      Inspirasi Bekantar     



"Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa." – Seno Gumira Ajidarma-- 
Read More

Call Ojek, Layanan Ojek dan Kurir Tarakan Kaltara

Bekantar.com - Kalau di kota – kota besar di Jawa memiliki Go-Jek, layanan ojek online yang saat ini sudah melebar tidak hanya jasa transportasi dan titipan, di Tarakan telah lahir juga satu layanan Ojek online yang bisa anda order melalui Facebook atau telepon. Memang “Call Ojek” bukan yang pertama di Tarakan, sebelumnya sudah ada jasa sejenis yang sayangnya sekarang sudah tidak beroperasi lagi. Call ojek hadir di Kota Tarakan dengan konsep yang digagas oleh Satria Purnama ini melakukan promosi melalui media sosial. Sambutan warga cukup antusias, selain karena layanan ini bisa sangat membantu juga karena respon yang diberikan saat ada owarga yang ingin tahu lebih dulu tentang Call Ojek.

Jika anda berminat untuk memanfaatkan jasa Call Ojek,  simak promosi Call Ojek di bawah ini.

Kini hadir di Kota Tarakan "CALL OJEK"

""ADA DRIVER WANITA NYA JUGA LOH""

Ojek + kurir Tarif PROMO hanya Rp.10.000 (menyesuaikan tujuan lokasi)
keuntungan menggunakan jasa kami adalah:
1. tarif nego tinggal jauh atau dekat.
2. Mas Ojek nya ramah dan sopan.
3. Nyaman dalam perjalanan dan tidak kebut kebutan di jalan (di jamin).
4. jam operasi jelas dari jam 06.00 pagi - 17.00 sore
5. KAMI TIDAK MELAYANI PENUMPANG YANG AKAN MELAKUKAN BISNIS HARAM seperti bisnis prostitusi, , dll (akan kami antar ke kantor polisi terdekat,jika berani!)
Customer yang hendak booking wajib dilakukan minimal 30 menit sebelum jam penjemputan, dengan memberitahukan:
nama
alamat jemput (pick point)
alamat tujuan (drop point)
jika ingin menggunakan jasa kami silahkan hubungi: 085245364896


Satria Purnomo
Terima kasih, di tunggu orderannya.

Kesaksian beberapa pelanggan yang puas dengan pelayanan kami:





      Inspirasi Bekantar     

Sukses selalu mengikuti orang yang ulet dan tangguh, tak pernah sekalipun bersedia menunggu si malas pengulur  waktu.
Read More